Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp16.797 Dipengaruhi Tekanan Global Dolar AS

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:15:33 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp16.797 Dipengaruhi Tekanan Global Dolar AS

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pada awal perdagangan hari ini. 

Setelah beberapa hari terakhir berada di bawah tekanan, mata uang Garuda kembali membuka perdagangan dengan kecenderungan melemah. Kondisi ini mencerminkan kuatnya pengaruh sentimen global, terutama penguatan dolar Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pada pembukaan perdagangan Kamis 5 Februari 2026, rupiah tercatat bergerak ke level Rp16.797 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan pasar valuta asing, sehingga rupiah belum mampu bangkit dari tren koreksi jangka pendek.

Data dari berbagai sumber memperlihatkan bahwa pergerakan rupiah pagi ini masih berada dalam rentang yang relatif sempit. Meski demikian, arah pergerakan tetap mengindikasikan kehati-hatian pelaku pasar yang cenderung memilih dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.

Perbandingan Data Kurs Rupiah Dari Berbagai Sumber

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah melemah sekitar 20 poin atau setara 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada penutupan Rabu, rupiah masih berada di posisi Rp16.777 per dolar AS, sebelum akhirnya tergelincir ke Rp16.797 per dolar AS saat pembukaan hari ini.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp16.795 per dolar AS pada waktu yang hampir bersamaan. Angka tersebut mengindikasikan pergerakan yang relatif datar, meskipun tetap mencerminkan tekanan pelemahan yang masih membayangi mata uang domestik.

Perbedaan tipis antar data ini mencerminkan dinamika pasar yang masih bergerak hati-hati. Investor dan pelaku pasar cenderung menunggu kepastian arah kebijakan global sebelum mengambil posisi lebih agresif di pasar mata uang.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah dengan pergerakan di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Proyeksi tersebut mencerminkan kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil. Meskipun terdapat peluang penguatan terbatas, tekanan dari faktor eksternal dinilai masih cukup kuat untuk menahan laju penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Fluktuasi yang diperkirakan terjadi juga menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama. Selama belum ada katalis positif yang signifikan dari dalam negeri, pergerakan rupiah cenderung mengikuti arah dolar AS di pasar internasional.

Ketegangan Geopolitik Tekan Pasar Keuangan

Salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen negatif menguat setelah militer Amerika Serikat menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan.

Situasi semakin kompleks setelah Iran meminta agar pembicaraan dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini digelar di Oman, bukan di Turki. Selain itu, Iran juga membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir, yang dinilai dapat memperpanjang proses diplomasi dan menambah ketidakpastian global.

Data Ekonomi Amerika Serikat Perkuat Dolar

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga ditopang oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja solid. Indeks Manajer Pembelian atau PMI Manufaktur Institute for Supply Management melonjak ke level 52,6 pada Januari 2026, naik signifikan dari 47,9 pada Desember 2025.

Kenaikan tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar dan menandakan bahwa sektor manufaktur AS kembali berada di zona ekspansi. Di sisi lain, PMI Manufaktur Global S&P juga tercatat meningkat menjadi 52,4 dari sebelumnya 51,9, memperkuat sentimen positif terhadap perekonomian AS.

Data ekonomi yang kuat ini memberikan ruang bagi dolar AS untuk tetap berada di level tinggi. Kondisi tersebut secara langsung memberi tekanan tambahan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah, yang sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Kebijakan The Fed Masih Jadi Perhatian Pasar

Penguatan dolar AS juga tidak terlepas dari kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Data ekonomi yang solid memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk bersikap hati-hati sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneternya.

Pada pertemuan Januari 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan ini membuat pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga dolar AS tetap mendapat dukungan kuat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni 2026 saat ini diperkirakan berada di kisaran 66 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun peluang pelonggaran masih ada, pasar belum sepenuhnya yakin penurunan suku bunga akan segera dilakukan.

Dampak Terhadap Rupiah dan Pasar Domestik

Kombinasi antara ketegangan geopolitik, data ekonomi AS yang kuat, serta kebijakan The Fed yang cenderung hati-hati membuat dolar AS bertahan di level tinggi. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi rupiah, terutama dalam jangka pendek.

Meski demikian, pergerakan rupiah yang masih berada dalam rentang terbatas menunjukkan bahwa tekanan belum sepenuhnya tidak terkendali. Stabilitas makroekonomi domestik dan kebijakan moneter Bank Indonesia tetap menjadi faktor penopang agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan global, termasuk dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. Selama sentimen global masih diliputi ketidakpastian, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan mengikuti arah dolar AS di pasar internasional.

Terkini