Strategi Dharma Polimetal Hadapi Pasar Otomotif Lesu Lewat Proyeksi Bisnis 2026

Kamis, 05 Februari 2026 | 12:56:29 WIB
Strategi Dharma Polimetal Hadapi Pasar Otomotif Lesu Lewat Proyeksi Bisnis 2026

JAKARTA - Lesunya pasar otomotif nasional sepanjang 2025 menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri komponen kendaraan. 

Di tengah tekanan tersebut, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) justru menyampaikan pandangan optimistis terkait arah bisnis ke depan. Emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat ini memaparkan strategi dan proyeksi kinerja 2026 dengan menekankan upaya adaptasi terhadap perubahan pasar serta penguatan fondasi usaha jangka panjang.

Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, mengungkapkan bahwa perlambatan industri otomotif, khususnya kendaraan roda empat, memberi dampak langsung terhadap permintaan komponen. 

Penurunan penjualan mobil nasional sepanjang 2025 menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja sektor ini. Namun, perseroan menilai kondisi tersebut sebagai momentum untuk memperluas pangsa pasar dan memperkuat diversifikasi bisnis.

Tantangan Pasar Otomotif Sepanjang 2025

Irianto menjelaskan bahwa tekanan terbesar sepanjang 2025 berasal dari menurunnya penjualan kendaraan roda empat konvensional. Pelemahan tersebut sejalan dengan dinamika makroekonomi global yang turut memengaruhi daya beli masyarakat dan keputusan investasi industri otomotif. Kondisi ini secara langsung berdampak pada permintaan komponen, terutama untuk segmen roda empat yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama industri.

“Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap permintaan komponen otomotif, khususnya pada segmen kendaraan konvensional roda empat. Strategi utama kami adalah dengan memperluas pangsa pasar,” ujar Irianto kepada Bisnis, Rabu. Pernyataan ini menegaskan bahwa perseroan memilih pendekatan ofensif dengan mencari peluang baru, alih-alih sekadar bertahan di tengah pelemahan pasar domestik.

Kinerja Penjualan Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan

Meski industri menghadapi tantangan, DRMA mencatatkan kinerja penjualan yang relatif solid sepanjang 2025. Irianto menyebutkan bahwa meskipun laporan keuangan tahunan belum dirilis, perseroan memproyeksikan penjualan tetap tumbuh dengan kenaikan single digit. Capaian ini mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga stabilitas usaha di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif.

Pada kuartal III/2025, DRMA membukukan pendapatan sebesar Rp4,39 triliun, tumbuh 9,2% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,02 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa strategi operasional dan pengelolaan pasar yang dijalankan mampu memberikan hasil positif meskipun industri secara keseluruhan sedang melambat.

Performa Laba dan Kontribusi Segmen Usaha

Selain pendapatan, kinerja laba perseroan juga menunjukkan peningkatan. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp419,87 miliar pada sembilan bulan 2025. Angka tersebut naik 1,89% secara tahunan dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp412,07 miliar.

Menurut manajemen, segmen kendaraan roda dua menjadi penopang utama kinerja DRMA. Kontribusi segmen ini mencapai sekitar 62% dari total pendapatan, seiring dengan permintaan yang relatif stabil dibandingkan segmen roda empat. Stabilitas pasar roda dua membantu menahan dampak pelemahan pada segmen kendaraan roda empat yang mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun lalu.

Kondisi Industri Otomotif Nasional

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Januari–Desember 2025 mencapai 803.687 unit. Capaian tersebut turun 7,2% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang sebesar 865.723 unit. Sementara itu, penjualan ritel dari dealer ke konsumen tercatat 833.692 unit, atau turun 6,3% dibandingkan 889.680 unit pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini menggambarkan tantangan struktural yang dihadapi industri otomotif nasional. Faktor suku bunga, kondisi ekonomi global, serta perubahan preferensi konsumen turut memengaruhi penjualan kendaraan. Bagi industri komponen seperti DRMA, kondisi tersebut menuntut fleksibilitas strategi dan kemampuan membaca peluang baru agar kinerja tetap terjaga.

Strategi Ekspansi dan Target Pendapatan 2026

Menghadapi 2026, DRMA menargetkan peningkatan pendapatan dengan mengandalkan sejumlah strategi utama. Irianto menyampaikan bahwa perseroan akan fokus pada diversifikasi pasar ekspor, pengembangan bisnis sejak tahap awal, serta perluasan portofolio produk dan stock keeping unit (SKU) yang semakin beragam. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasar domestik yang masih berfluktuasi.

“Untuk tahun 2026, DRMA menetapkan target pendapatan minimal Rp6,5 triliun, meningkat dibandingkan target pendapatan tahun 2025 sebesar Rp6 triliun,” pungkasnya. Target tersebut mencerminkan optimisme manajemen terhadap prospek bisnis, sekaligus komitmen untuk terus tumbuh di tengah tantangan industri otomotif yang belum sepenuhnya pulih.

Terkini