Amartha Optimistis Pembiayaan UMKM Produktif Masih Terbuka Luas di Indonesia

Selasa, 10 Februari 2026 | 14:09:55 WIB
Amartha Optimistis Pembiayaan UMKM Produktif Masih Terbuka Luas di Indonesia

JAKARTA - Akses pembiayaan masih menjadi tantangan besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia, terutama di segmen ultra mikro. 

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan teknologi finansial justru melihat peluang yang belum tergarap sepenuhnya. PT Amartha Mikro Fintek menilai bahwa ruang pertumbuhan pembiayaan produktif masih sangat luas, seiring banyaknya UMKM yang belum tersentuh layanan keuangan formal hingga saat ini.

Fintech peer to peer lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) memandang prospek penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, khususnya UMKM, masih sangat besar. Keyakinan tersebut didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar pelaku usaha mikro, terutama di wilayah pedesaan, masih membutuhkan akses modal untuk menopang kegiatan usaha yang menjadi sumber utama penghidupan mereka sehari-hari.

Potensi UMKM Belum Tergarap Optimal

Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie menjelaskan potensi besar tersebut tercermin dari masih rendahnya tingkat penyaluran pembiayaan kepada UMKM di Indonesia. Dari sekitar 30 juta UMKM yang ada, Amartha saat ini baru menjangkau sekitar 3 juta pelaku usaha ultra mikro. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM masih belum terhubung dengan sumber pendanaan produktif.

“Kami hitung ada sekitar 30 juta UMKM. Kami itu menyasar ultra mikro dan sekarang kami baru punya 3 juta, berarti potensinya masih sangat-sangat besar. Jangkauan kami itu belum ke semua, sehingga masih banyak sekali sebenarnya ibu-ibu yang belum terjangkau pemodalan produktif,” ungkap Julie Fauzie saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Julie menegaskan bahwa segmen ultra mikro masih menjadi kelompok yang paling membutuhkan dukungan pembiayaan. Banyak pelaku usaha di sektor ini yang mengandalkan aktivitas berdagang atau berkebun sebagai satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pembiayaan Produktif Jadi Penopang Kehidupan

Menurut Julie, tingginya permintaan pembiayaan produktif tidak lepas dari karakteristik UMKM, khususnya di pedesaan. Pembiayaan yang diterima biasanya langsung digunakan untuk kegiatan usaha yang hasilnya dipakai untuk mencukupi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari pangan hingga biaya pendidikan.

“Jadi, kalau misal tidak berdagang atau tidak berkebun, mereka tidak memenuhi kebutuhannya. Terlebih, orang-orang di desa itu memang aktivitasnya berdagang, beda dengan orang di kota,” tuturnya. Hal ini membuat pembiayaan produktif memiliki peran vital dalam menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga pelaku UMKM.

Kondisi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa pembiayaan produktif tetap dibutuhkan meski kondisi ekonomi berfluktuasi. Selama UMKM masih menjalankan usaha sebagai mata pencaharian utama, kebutuhan modal akan terus ada dan bahkan cenderung meningkat seiring berkembangnya usaha.

Peran Tenaga Lapangan Perluas Jangkauan

Untuk menjangkau pelaku UMKM hingga ke pelosok daerah, Amartha tidak hanya mengandalkan platform digital. Julie menyebutkan bahwa perusahaan juga dibantu oleh business partner atau tenaga lapangan yang berperan penting dalam memperluas penetrasi pembiayaan.

Saat ini, Amartha memiliki sekitar 10 ribu tenaga lapangan yang tersebar di berbagai wilayah. Tenaga lapangan tersebut bertugas membentuk kelompok ibu-ibu yang saling mengenal dan memiliki usaha. Mereka juga melakukan penilaian kelayakan usaha secara langsung di lapangan.

Selain itu, tenaga lapangan rutin melakukan pertemuan mingguan dengan para pelaku usaha. Interaksi yang berkelanjutan ini memungkinkan terbangunnya hubungan yang erat antara Amartha dan para borrower, sekaligus membantu memantau perkembangan usaha yang dijalankan.

Mitigasi Risiko Lewat Pendekatan Relasional

Julie menambahkan bahwa peran tenaga lapangan tidak hanya sebatas penyaluran pembiayaan. Mereka juga menjadi garda terdepan dalam mitigasi risiko kredit macet. Kedekatan hubungan antara business partner dengan para ibu-ibu pelaku usaha dinilai efektif dalam menjaga kedisiplinan pembayaran.

“Jadi, memang relationship antara business partner dengan ibu-ibunya itu lumayan cukup dekat,” ucap Julie. Pendekatan relasional ini menjadi salah satu keunggulan Amartha dalam menjaga kualitas pembiayaan di segmen ultra mikro yang memiliki risiko relatif lebih tinggi.

Dengan model tersebut, Amartha dapat memahami kondisi riil para borrower, termasuk tantangan usaha yang dihadapi. Hal ini memungkinkan perusahaan mengambil langkah antisipatif apabila muncul potensi masalah pembayaran.

Ultra Mikro Masih Unbankable Bagi Perbankan

Lebih lanjut, Julie menjelaskan bahwa segmen ultra mikro masih sulit dijangkau oleh perbankan karena dianggap unbankable. Keterbatasan agunan, skala usaha yang kecil, serta administrasi yang minim membuat pelaku usaha ultra mikro kerap tidak memenuhi persyaratan perbankan konvensional.

Namun demikian, Julie mengungkapkan bahwa justru banyak bank yang menempatkan dana di Amartha untuk disalurkan kembali ke segmen ultra mikro. Dengan skema tersebut, pendanaan dari bank dapat membantu mendorong pertumbuhan usaha pelaku ultra mikro tanpa harus bersentuhan langsung dengan risiko kredit.

Pendekatan kolaboratif ini dinilai mampu memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat ekosistem pembiayaan produktif di Indonesia.

Skema Pembiayaan Bertahap Dan Kinerja Penyaluran

Terkait besaran pinjaman, Julie menyebut rata-rata UMKM yang meminjam di Amartha memperoleh pembiayaan mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. Namun, pemberian pembiayaan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi usaha dan riwayat pembayaran.

Pada tahap awal, borrower biasanya diberikan pembiayaan dengan nominal paling rendah. Seiring waktu, jika usaha menunjukkan perkembangan dan pembayaran berjalan lancar, plafon pinjaman dapat ditingkatkan.

“Jadi, biasanya kalau yang pelaku usaha awal itu tak diberikan besar. Baru yang sudah 2 hingga 5 tahun bisa mencapai pinjaman Rp 15 juta. Kami juga lihat histori pembayarannya dan bisnisnya berkembang atau tidak,” kata Julie.

Hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa. Dari sisi sektor, sebanyak 53% borrower berasal dari perdagangan, 22% pertanian, 9% peternakan, 6% jasa, serta 7% industri rumah tangga dan sektor lainnya. Berdasarkan situs resmi perusahaan, Amartha mencatatkan Tingkat Keberhasilan Bayar atau TKB90 sebesar 95,61%.

Terkini