JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global kembali menunjukkan arah positif pada awal pekan ini.
Sentimen kebijakan dalam negeri, khususnya wacana peningkatan kewajiban pemenuhan pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO), menjadi salah satu faktor yang ikut diperhitungkan pelaku pasar. Di tengah dinamika global yang masih fluktuatif, penguatan harga ini juga mencerminkan optimisme terhadap prospek permintaan dari negara konsumen utama seperti China dan India.
Penguatan harga batu bara tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah indikator fundamental dan teknikal bergerak seiring, membentuk ekspektasi bahwa komoditas energi ini masih memiliki ruang untuk bertahan di level yang relatif tinggi. Meski demikian, pasar tetap mencermati potensi tekanan dari sisi eksternal yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah pergerakan harga.
Pergerakan Harga Batu Bara Acuan Global Awal Pekan
Harga batu bara acuan Newcastle tercatat menguat pada perdagangan Senin. Untuk kontrak Februari 2026, harga naik sebesar 0,15% ke level US$ 115,75 per ton. Sementara itu, kontrak Maret 2026 meningkat US$ 0,25 menjadi US$ 117,5 per ton, dan kontrak April 2026 turut terkerek US$ 0,2 ke posisi US$ 117,6 per ton.
Kenaikan ini menandai adanya sentimen positif di pasar batu bara Asia-Pasifik. Pelaku pasar menilai permintaan dari sektor pembangkit listrik dan industri berat masih cukup solid, terutama menjelang peningkatan aktivitas ekonomi di beberapa negara berkembang. Kondisi ini membuat harga batu bara acuan Newcastle mampu bertahan di jalur penguatan meski tidak terlalu agresif.
Namun, pergerakan berbeda terlihat pada harga batu bara acuan Eropa. Harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 justru melemah US$ 0,55 menjadi US$ 102,3 per ton. Kontrak Maret 2026 turun US$ 0,55 ke level US$ 102,55, sedangkan April 2026 terkoreksi US$ 0,55 menjadi US$ 102 per ton. Perbedaan arah ini menunjukkan adanya faktor regional yang memengaruhi pasar.
Peluang Kenaikan DMO Jadi Sentimen Domestik Tambahan
Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait peluang peningkatan porsi DMO batu bara pada 2026. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa dari sisi porsi, kewajiban DMO dipastikan akan mengalami kenaikan. “Dari sisi porsi, DMO pasti akan naik,” ujar Yuliot.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk melindungi kepentingan industri dalam negeri. Peningkatan DMO bertujuan memastikan pasokan batu bara yang memadai bagi kebutuhan domestik, terutama untuk pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Dengan pasokan yang terjaga, stabilitas ketenagalistrikan nasional diharapkan dapat dipertahankan.
Selain itu, rencana kenaikan DMO juga berkaitan erat dengan penyesuaian target produksi batu bara nasional. Pemerintah menetapkan kebijakan ini seiring dengan penurunan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Dengan produksi yang lebih terkendali, peningkatan porsi DMO menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan pasar.
Penyesuaian Produksi Dan Dampaknya Terhadap Pasar
Yuliot menjelaskan bahwa kenaikan porsi DMO dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi produksi batu bara nasional. Pada tahun sebelumnya, porsi DMO berada di kisaran 23%–24%. Ke depan, angka tersebut berpotensi meningkat seiring perubahan arah kebijakan energi dan kebutuhan domestik yang terus berkembang.
Penurunan target produksi dalam RKAB 2026 menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin mengelola sumber daya batu bara secara lebih berkelanjutan. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pasokan berlebih di pasar global, sekaligus menjaga ketersediaan batu bara untuk kebutuhan strategis nasional.
Bagi pelaku usaha, kebijakan ini membawa implikasi tersendiri. Di satu sisi, peningkatan DMO dapat membatasi volume ekspor. Namun di sisi lain, kepastian serapan domestik memberikan jaminan pasar yang relatif stabil, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analisis Teknikal Dan Prospek Jangka Pendek
Dari sisi teknikal, Research and Development ICDX Girta Yoga menilai harga batu bara masih memiliki peluang melanjutkan tren bullish. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan harga tetap akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal yang dinamis. Level resistance saat ini diperkirakan berada di kisaran US$ 117 hingga US$ 119,5 per ton.
“Namun, jika muncul katalis negatif, harga berpotensi terkoreksi ke area support di kisaran US$ 115,00 hingga US$ 112,50 per ton,” jelas Yoga. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski sentimen positif masih mendominasi, risiko koreksi tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar.
Beberapa katalis yang dapat memengaruhi pergerakan harga antara lain kebijakan energi bersih di negara maju, perubahan permintaan musiman, serta fluktuasi harga komoditas energi lain seperti gas alam. Kombinasi faktor-faktor ini membuat pasar batu bara tetap berada dalam fase yang sensitif terhadap berita dan kebijakan.
Permintaan China Dan India Masih Jadi Penopang Utama
Dari sisi fundamental, permintaan batu bara dari China dan India masih menjadi penopang utama harga global. Kedua negara tersebut merupakan konsumen batu bara terbesar dunia, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri. Aktivitas ekonomi yang relatif stabil di kedua negara ini memberikan dukungan terhadap permintaan jangka menengah.
Selain permintaan, kondisi pasokan global juga turut memengaruhi dinamika harga. Gangguan distribusi, kebijakan ekspor negara produsen, serta perkembangan infrastruktur energi menjadi faktor yang terus dipantau. Di tengah transisi menuju energi bersih, batu bara masih memegang peran penting sebagai sumber energi baseload.
Dengan berbagai sentimen tersebut, penguatan harga batu bara pada awal Februari 2026 mencerminkan keseimbangan antara faktor domestik dan global. Wacana kenaikan DMO memberikan sentimen tambahan dari dalam negeri, sementara prospek permintaan China dan India menjaga optimisme pasar. Meski volatilitas tetap ada, pasar melihat batu bara masih memiliki posisi strategis dalam peta energi dunia.