JAKARTA - Reli harga batu bara dalam sepekan terakhir memicu optimisme di kalangan pelaku usaha tambang.
Selama lima hari perdagangan beruntun, harga terus menanjak tanpa jeda berarti. Sentimen positif terutama datang dari Amerika Serikat yang mengumumkan arah kebijakan baru sektor energi. Kombinasi faktor global membuat harga komoditas ini kembali bertenaga.
Pada perdagangan Rabu 18 Februari 2026, harga batu bara ditutup di posisi US$ 122,15 atau menguat 0,91 persen. Penguatan ini memperpanjang tren positif dengan kenaikan 5,1 persen selama lima hari berturut turut. Kenaikan tersebut menempatkan harga di level tertinggi sejak 22 Januari 2025. Momentum ini mempertegas perubahan arah pasar dalam jangka pendek.
Lonjakan harga batu bara terutama ditopang kabar baik dari Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana melonggarkan pembatasan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Kebijakan ini memungkinkan fasilitas tersebut melepaskan lebih banyak polutan termasuk merkuri. Langkah itu dinilai memberi ruang napas bagi industri batu bara.
Rencana Pelonggaran Aturan Emisi
Pejabat senior Environmental Protection Agency diperkirakan mengumumkan kebijakan tersebut dalam kunjungan ke Louisville Kentucky. Pengumuman dijadwalkan berlangsung pada Jumat sebagaimana laporan yang beredar. Kebijakan ini menjadi bagian dari evaluasi regulasi emisi yang sebelumnya diperketat.
EPA sebelumnya telah memberikan pengecualian kepada 47 perusahaan dari regulasi pembatasan merkuri dan racun udara untuk pembangkit listrik batu bara selama dua tahun. Pada Juni lalu lembaga tersebut juga mengusulkan pencabutan aturan era Presiden Joe Biden. Aturan itu membatasi emisi karbon dioksida merkuri dan polutan udara lainnya.
Usulan tersebut saat ini sedang dalam peninjauan antar lembaga. Aturan final akan dipublikasikan setelah proses peninjauan selesai dan ditandatangani oleh Administrator EPA Lee Zeldin. Pernyataan resmi EPA pada Rabu menegaskan tahapan tersebut masih berjalan. Pasar merespons positif potensi pelonggaran regulasi itu.
Dalam pelonggaran batas merkuri yang merupakan zat neurotoksin kuat dan dapat mengganggu perkembangan otak bayi, EPA berargumen kebijakan ini mengurangi biaya tidak semestinya bagi perusahaan utilitas.
Perusahaan yang memiliki dan mengoperasikan pembangkit batu bara dinilai akan lebih efisien. EPA memperkirakan perubahan ini dapat menghemat biaya hingga US$ 670 juta antara 2028 hingga 2037.
Dorongan Infrastruktur Energi Amerika Serikat
Presiden Donald Trump telah berjanji mempercepat pembangunan infrastruktur energi untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik. Permintaan itu datang dari sektor kecerdasan buatan dan pusat data yang berkembang pesat. Ia bahkan mendeklarasikan darurat energi guna mempertahankan operasional pembangkit tua. Fasilitas yang sebelumnya direncanakan ditutup kini memperoleh kelonggaran regulasi.
Pemerintah Amerika Serikat juga menghapus insentif pajak untuk proyek energi angin dan surya. Selain itu penerbitan izin energi terbarukan di lahan federal maupun lahan milik swasta dan negara bagian diperlambat. Kebijakan ini memperlihatkan perubahan prioritas energi nasional. Dampaknya langsung terasa pada ekspektasi permintaan batu bara.
Kebijakan EPA berpotensi menguntungkan perusahaan batu bara seperti Peabody melalui pengurangan beban regulasi. Peabody Energy Corp dikenal sebagai produsen batu bara metalurgi dan termal dengan segmen seaborne thermal hingga seaborne metallurgical. Prospek pelonggaran aturan membuat saham dan sentimen sektor ini menguat.
Dukungan Pasokan Dari Afrika Selatan
Lonjakan harga batu bara juga ditopang kabar dari Afrika Selatan. Harga batu bara termal Afrika Selatan di pelabuhan India naik tajam secara mingguan. Kenaikan terjadi di tengah kegiatan pemeliharaan tambang dan gangguan operasional. Kondisi ini memperketat pasokan global.
Gangguan produksi di Afrika Selatan memperkuat sentimen harga di pelabuhan tujuan. Pasar merespons dengan peningkatan pembelian untuk mengantisipasi risiko kekurangan pasokan. Ketatnya suplai membuat harga lebih mudah terdorong naik. Faktor ini melengkapi dorongan dari kebijakan Amerika Serikat.
Pergeseran Strategis India Ke Batu Bara Kokas Amerika Serikat
Strategi impor batu bara metalurgi India kini bergeser sebagai respons terhadap kerentanan rantai pasok. Ketergantungan pada sumber geografis terkonsentrasi menciptakan volatilitas harga dan risiko keamanan pasokan. Pemerintah India mulai melakukan diversifikasi pemasok. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan.
Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal dalam acara industri di Mumbai Februari 2026 menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada sumber terbatas. Ia menyoroti minat India terhadap kualitas batu bara kokas Amerika Serikat. Kualitas tersebut sesuai kebutuhan produksi baja nasional yang terus berkembang.
Kiriman batu bara dari Amerika Serikat naik dari 7,3 persen menjadi lebih dari 15 persen. Sementara pasokan dari Australia turun dari 69 persen menjadi sekitar 43 persen. Rusia muncul sebagai kontributor penting dengan volume 7,75 juta ton. India juga memiliki sumber alternatif seperti Kanada Kolombia dan Mongolia.
Perubahan ini mencerminkan implementasi kebijakan yang disengaja bukan sekadar fluktuasi pasar. Diversifikasi impor memperkuat posisi tawar India dalam negosiasi harga. Pada saat yang sama langkah tersebut menambah dukungan terhadap permintaan batu bara Amerika Serikat. Kombinasi faktor kebijakan dan dinamika pasokan global akhirnya mendorong harga terbang selama lima hari berturut turut.