JAKARTA - Ramadan selama ini lebih sering dipahami sebagai momentum ibadah spiritual yang berfokus pada kewajiban menahan lapar dan haus.
Padahal, praktik puasa menyimpan dimensi yang lebih luas, termasuk pengaruhnya terhadap kesehatan mental dan keseimbangan emosi. Di tengah tekanan hidup modern, puasa justru dapat menjadi ruang pemulihan psikologis yang bermakna.
Ibadah puasa di bulan Ramadan kerap dipahami sebagai kewajiban spiritual semata. Padahal, di balik praktik menahan lapar dan haus, tersimpan dimensi psikologis yang erat kaitannya dengan kesehatan mental dan stabilitas emosi. Perspektif ini semakin relevan ketika masyarakat menghadapi berbagai tekanan sosial dan profesional.
Di tengah padatnya aktivitas, tekanan akademik maupun pekerjaan, serta derasnya arus media sosial, Ramadan justru menjadi momen reflektif untuk menata diri melalui mekanisme puasa. Proses menahan diri tersebut memberi kesempatan bagi individu untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan secara mental.
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis Dian Kartika Amelia Arbi menjelaskan bahwa secara ilmiah puasa berkaitan dengan perubahan hormon dalam tubuh yang berdampak langsung pada kondisi psikis seseorang. Penjelasan ini membuka pemahaman bahwa puasa tidak hanya berdimensi religius, tetapi juga biologis dan psikologis.
Endorfin Meningkat Dan Stres Menurun
Dosen Psikologi di Universitas Airlangga (UNAIR) itu menyebutkan, sejumlah penelitian menunjukkan puasa dapat memicu peningkatan hormon endorfin. Hormon ini dikenal berperan dalam menciptakan rasa tenang sekaligus membantu menurunkan tingkat stres secara alami.
Meski hasil penelitian bisa beragam, secara umum proses menahan diri saat berpuasa mendorong tubuh memproduksi hormon positif yang mendukung suasana hati lebih stabil. Kondisi ini berkontribusi pada terciptanya ketenangan batin selama menjalankan aktivitas sehari hari.
“Pada dasarnya puasa merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri. Puasa melatih individu untuk menahan diri dalam melakukan sesuatu secara berlebih. Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang,” ujar Dian. Senin 23 Februari 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi pelatihan psikologis. Dengan membiasakan diri menahan dorongan fisik, individu secara tidak langsung juga mengasah kemampuan mengelola tekanan emosional yang muncul dalam keseharian.
Latihan Kontrol Diri Dan Stabilitas Emosi
Menurutnya, inti dari puasa bukan semata menahan lapar dan haus, melainkan melatih self control. Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental. Dengan kontrol diri yang baik, seseorang lebih mampu mengenali, memahami, dan mengelola dorongan emosinya.
Hal tersebut sangat relevan di tengah tekanan pekerjaan maupun tugas akademik yang kerap memicu kecemasan. Tantangan yang datang silih berganti sering kali membuat individu mudah lelah secara emosional dan rentan terhadap stres berkepanjangan.
“Kontrol diri yang terlatih membantu individu lebih stabil secara emosional dan tidak mudah reaktif terhadap tekanan,” jelasnya. Kemampuan ini penting agar seseorang tidak mudah terpancing oleh situasi yang menekan atau konflik sosial.
Dalam konteks ini, puasa dapat dipahami sebagai proses pembentukan ketahanan mental. Ketika seseorang mampu menunda keinginan dan mengatur respons, ia sedang membangun pondasi psikologis yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup.
Puasa Sebagai Aktivitas Pendukung Kesehatan Mental
Dalam konteks intervensi psikologis, Dian menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian kuat yang menempatkan puasa sebagai metode utama dalam mengatasi gangguan mental. Artinya, puasa bukanlah terapi medis yang berdiri sendiri dalam penanganan masalah psikologis.
Namun demikian, puasa kerap menjadi aktivitas pendukung dalam proses pengobatan atau terapi psikologis karena sifatnya yang menyeluruh melibatkan aspek fisik, emosional, hingga spiritual. Integrasi ketiga aspek tersebut dinilai memberi efek positif terhadap keseimbangan diri.
Karakteristik puasa yang dijalankan dengan benar dinilai mampu menstimulasi hormon positif serta memperkuat kontrol diri. Jika dilakukan konsisten selama satu bulan penuh, hal ini dapat membantu menjaga stabilitas mental, khususnya bagi mahasiswa dan pekerja muda yang rentan mengalami tekanan.
Melalui kontrol diri yang terasah selama Ramadan, diharapkan individu memiliki ketahanan mental lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ke depan. Dengan demikian, puasa tidak hanya berdampak pada peningkatan spiritualitas, tetapi juga memberi kontribusi nyata terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup secara menyeluruh.