JAKARTA - Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperbaiki diri secara menyeluruh.
Di balik ibadah puasa, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga sikap, ucapan, serta perilaku agar tetap selaras dengan nilai nilai spiritual. Tanpa pengendalian diri, puasa bisa kehilangan makna terdalamnya.
Saat melakukan puasa Ramadan, ada sejumlah hal yang perlu dihindari. Misalnya seperti menggunjing orang, berkelahi, menghina orang dan banyak masih banyak lagi. Larangan ini bukan sekadar aturan, melainkan bentuk penjagaan agar kualitas ibadah tetap terpelihara sepanjang bulan suci.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas puasa agar lebih baik dan juga tidak memberi celah bagi diri sendiri untuk melakukan hal tercela. Setiap godaan yang datang menjadi ujian konsistensi dalam menjaga niat dan keikhlasan selama beribadah.
Saat berpuasa, kita diwajibkan untuk menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga masuk waktu Maghrib. Namun lebih dari itu, kita juga ditantang untuk melatih kesabaran dan menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri, melansir Antara, Jumat 20 Februari 2026.
Menjaga Diri Dari Kebiasaan Sepele Yang Berdampak Besar
Banyak sekali manfaat dan hal hal positif yang dapat dilakukan saat bulan Ramadhan, seperti berbenah diri agar lebih disiplin, mengatur kembali pola makan, waktu dan hubungan sosial agar menjadi pribadi yang lebih baik saat Ramadhan maupun setelahnya. Ramadan menjadi ruang latihan untuk membentuk karakter yang lebih kuat.
Dalam mewujudkan seluruh goals yang ingin dicapai saat bulan Ramadhan tentu banyak sekali tantangan di depan mata. Kebiasaan yang sudah sering dilakukan semenjak sebelum Ramadhan menjadi tantangan besar yang menguji keimanan dan konsistensi kita dalam mencapai tujuan.
Tak tanggung tanggung, dampak dari tantangan yang dihadapi pun cukup besar, karena sekali tergoda melakukan hal tersebut maka pahala berpuasa kita tak akan sama besarnya seperti saat kita konsisten menahan diri dari berbagai cobaan. Konsistensi menjadi kunci menjaga nilai ibadah tetap optimal.
Kebiasaan ini nampak sepele, namun pengaruhnya cukup besar saat berpuasa dan mempengaruhi kualitas ibadah selama bulan Ramadhan juga. Maka penting untuk tetap menahan diri dari godaan dan konsisten untuk meningkatkan diri saat berpuasa untuk kualitas diri yang lebih baik.
Mengatur Pola Makan Dan Istirahat Secara Bijak
Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa tidur siang yang berlebihan saat berpuasa dapat membuat waktu terbuang sia sia. Karena lapar dan haus yang dirasakan saat berpuasa dapat menjernihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka produktif saat berpuasa merupakan hal yang perlu dan dianjurkan.
Porsi makan yang berlebihan saat berbuka dan sahur dapat menyebakan gangguan pencernaan dan mengurangi semangat beribadah. Alih alih memperoleh energi, tubuh justru merasa berat dan kurang nyaman untuk menjalankan aktivitas spiritual.
Selain itu, dapat juga berpotensi meningkatkan resiko obesitas dan diabetes. Maka berbukalah sewajar dan secukupnya agar kebugaran tubuh tetap terjaga. Pola makan yang seimbang membantu menjaga kesehatan sekaligus menunjang kekhusyukan ibadah.
Saat berpuasa, kita dianjurkan untuk sahur. Jika pada malam hari kita tidur larut malam maka pola tidur yang seharusnya sudah tersusun menjadi terganggu dan membuat tubuh lemas saat berkegiatan di siang hari. Pola tidur yang terjaga merupakan salah satu hal yang penting dilakukan saat berpuasa.
Menghindari Lalai Karena Media Sosial Dan Kurang Ibadah
Kemudian, segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan selain ibadah tentunya, merupakan hal yang tidak baik. Prinsip keseimbangan perlu dijaga agar waktu tidak habis untuk aktivitas yang kurang memberi manfaat spiritual.
Begitu pun bermedia sosial secara berlebihan, hal ini dapat mengurangi fokus beribadah dan membuang waktu secara percuma. Sebaiknya dilakukan secukupnya dan menggunakan sisa waktunya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat.
Saat berpuasa sebaiknnya ibadah turut ditingkatkan meskipun tentu banyak hal hal yang dapat menghambat seperti rasa malas dan kesibukan duniawi yang berlebihan. Ramadan adalah momentum yang tepat untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Selagi ada momentumnya maka pastikan diri kita tetap dekat dengan Allah SWT dengan menjaga salat, membaca Al Qur’an, beramal baik dan meningkatkan kualitas diri. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah puasa.
Menjaga Lisan Dan Perilaku Dari Hal Tercela
Selagi Ramadan, sebaiknya perbanyak berbagi dan menolong sesama, karena hal ini juga merupakan ibadah. Selain meningkatkan kualitas diri sendiri, kita juga perlu berbagi dan peduli terhadap sesama agar kualitas ibadah kita menjadi lebih baik lagi.
Banyak sekali contoh perilaku tercela yang dilakukan lewat mulut, seperti menggunjing, berbohong, memfitnah, menipu dan masih banyak lagi. Perkataan yang tidak terjaga dapat mengurangi nilai pahala puasa yang sedang dijalankan.
Disebutkan dalam hadis riwayat Al Khamsah: “Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan suka mengerjakannya, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makan dan minumnya." [HR. al-Khamsah].
Memasukan air saat berwudhu kedalam hidung dan mulut saat berpuasa memang tidak membatalkan puasa, namun hal ini dapat mengurangi nilai puasa kita bahkan berpotensi membatalkan puasa. Karena air yang dimasukan bisa saja tertelan secara tidak sengaja, sehingga bisa membatalkan puasa.
Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Al Khamsah: “Dari Laqith bin Saburah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya berkata: Hai Rasulullah terangkanlah kepadaku tentang wudlu. Rasulullah saw bersabda: Ratakanlah air wudlu dan sela selailah jari jarimu, dan keraskanlah dalam menghirup air dalam hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.” [HR. al-Khamsah].
Hal ini membatalkan puasa jika berpotensi memunculkan atau dilakukan syahwat. Jika ciuman itu tidak disertai dengan nafsu dan hanya sebagai ungkapan sayang, maka puasa tersebut tidak batal. Seperti hadis riwayat Al Jama’ah dan An Nasa’i: “Dari Aisyah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah Rasulullah saw mencium dan merangkul saya dalam keadaan berpuasa. Tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan nafsunya." [HR. al-Jama‘ah dan anNasa’i].