Harga Minyak Dunia Bervariasi Dipicu Lonjakan Stok Minyak Amerika Serikat

Kamis, 26 Februari 2026 | 10:08:54 WIB
Harga Minyak Dunia Bervariasi Dipicu Lonjakan Stok Minyak Amerika Serikat

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menunjukkan arah yang berbeda pada perdagangan Rabu, 25 Februari 2026 atau Kamis waktu Jakarta. 

Dinamika ini terjadi di tengah kombinasi sentimen fundamental dan geopolitik yang saling tarik menarik. Lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar.

Di satu sisi, data stok yang melonjak jauh di atas perkiraan memberi tekanan terhadap harga. Namun di sisi lain, ancaman terhadap pasokan global akibat potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran membatasi pelemahan. Kondisi ini membuat harga minyak bergerak bervariasi.

Harga minyak kontrak berjangka Brent naik 8 sen menjadi USD 70,85 per barel. Sementara itu, harga minyak kontrak berjangka West Texas Intermediate atau WTI turun 21 sen menjadi USD 65,42. Perbedaan arah ini mencerminkan respons pasar yang berhati-hati.

Sebelumnya, kedua acuan tersebut sempat menguat karena sentimen geopolitik di Timur Tengah. Namun laporan terbaru mengenai stok minyak mentah AS memicu penyesuaian harga. Investor kini menimbang ulang keseimbangan antara risiko pasokan dan kondisi fundamental.

Stok Minyak AS Melonjak Tajam

Badan Informasi Energi AS atau Energy Information Administration menyatakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat naik 16 juta barel pada pekan lalu. Kenaikan itu terjadi seiring pemanfaatan kilang menurun dan impor meningkat. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis.

Dalam jajak pendapat Reuters sebelumnya, analis memperkirakan kenaikan hanya sekitar 1,5 juta barel. Lonjakan sebesar itu memberikan sinyal bahwa pasokan di pasar domestik AS sedang melimpah. Situasi tersebut secara teori menekan harga karena ketersediaan yang lebih besar.

Namun, angka penyesuaian EIA yang mencakup total perubahan stok minyak mentah yang tidak diperhitungkan mencapai rekor tertinggi. Penyesuaian itu tercatat sebesar 2,7 juta barel per hari pada minggu lalu. Data tersebut menambah kompleksitas pembacaan pasar.

“Laporan bearish (EIA) dengan peningkatan stok minyak mentah yang besar, tetapi dampaknya terhadap harga terbatas, karena pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo.

Ketegangan Geopolitik Dorong Harga

Harga Brent sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 31 Juli pada Jumat. Sementara WTI menyentuh level tertinggi sejak 4 Agustus pada Senin. Penguatan tersebut terjadi karena Amerika Serikat menempatkan pasukan militer di Timur Tengah.

Langkah itu dilakukan untuk mencoba memaksa Iran bernegosiasi guna mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya. Ketegangan yang meningkat di kawasan penghasil minyak utama dunia menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Sentimen inilah yang menahan tekanan dari data stok.

Iran sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC. Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu produksi maupun distribusi dari negara tersebut serta kawasan sekitarnya. Risiko ini menjadi pertimbangan serius pelaku pasar.

Mendukung harga minyak, Presiden AS Donald Trump secara singkat menyampaikan argumennya tentang kemungkinan serangan terhadap Iran dalam pidato kenegaraannya pada Selasa. Ia mengatakan tidak akan membiarkan negara yang ia gambarkan sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir.

Diplomasi Dan Ancaman Militer

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu delegasi Iran untuk putaran ketiga pembicaraan pada Kamis di Jenewa. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomasi di tengah ancaman militer.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada Selasa bahwa kesepakatan dengan AS "dapat dicapai, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan". Pernyataan tersebut memberi secercah harapan bagi pasar energi global.

Di tengah ketidakpastian tersebut, kelompok OPEC+ kemungkinan mempertimbangkan peningkatan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk April. Langkah ini akan mengakhiri jeda tiga bulan dalam peningkatan produksi.

Delapan produsen utama yakni Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman dijadwalkan bertemu pada 1 Maret. Pertemuan tersebut dinantikan pasar untuk melihat arah kebijakan produksi selanjutnya.

Rencana Produksi Dan Ketidakpastian Tarif

Dalam perkembangan terpisah, produsen terbesar OPEC+, Arab Saudi, telah mengaktifkan rencana peningkatan produksi dan ekspor jangka pendek. Langkah itu disiapkan jika serangan AS terhadap Iran mengganggu aliran minyak global.

Ketidakpastian tarif juga menambah kekhawatiran investor. Tarif global sementara Trump sebesar 10 persen mulai berlaku pada Selasa setelah putusan Mahkamah Agung pekan lalu. Kebijakan perdagangan tersebut berpotensi memengaruhi permintaan energi global.

Trump kemudian menyatakan tarif akan menjadi 15 persen, meski belum jelas kapan dan apakah itu akan berlaku. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut tarif untuk beberapa negara akan naik menjadi 15 persen atau lebih tinggi dari 10 persen yang baru diberlakukan.

Kombinasi antara lonjakan stok minyak AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, potensi peningkatan produksi OPEC+, serta ketidakpastian tarif global membuat harga minyak bergerak bervariasi. Pasar kini menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan diplomasi yang dapat menentukan keseimbangan pasokan dan permintaan dalam beberapa pekan mendatang.

Terkini