Pesona Kuliner Tradisional Aceh: Menu Favorit yang Menghidupkan Suasana Ramadan

Kamis, 26 Februari 2026 | 11:35:51 WIB
Pesona Kuliner Tradisional Aceh: Menu Favorit yang Menghidupkan Suasana Ramadan

JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, geliat tradisi di Tanah Rencong kembali memancarkan pesona khasnya. Aceh tidak hanya dikenal dengan ketaatan ibadahnya, tetapi juga kekayaan kuliner tradisionalnya yang selalu menjadi magnet utama saat waktu berbuka puasa tiba.

Berbagai penganan khas warisan leluhur kini kembali membanjiri pasar-pasar takjil, menjadi menu favorit yang paling dicari oleh warga lokal maupun pendatang untuk membatalkan puasa.

Kehadiran kuliner tradisional ini bukan sekadar urusan pemuas lapar, melainkan bagian dari identitas budaya yang tetap terjaga kelestariannya. Aroma rempah yang kuat dan cita rasa manis yang legit menjadi ciri khas yang membedakan takjil Aceh dengan wilayah lainnya di Indonesia.

Ragam Takjil Ikonik Aceh di Meja Berbuka

Beberapa jenis kuliner tradisional Aceh mengalami lonjakan permintaan yang signifikan setiap harinya selama bulan Ramadan. Berikut adalah beberapa menu yang konsisten menjadi primadona:

Ie Bu Peudah: Bubur pedas khas Aceh yang diracik dari puluhan jenis dedaunan hutan dan rempah-rempah. Menu ini dipercayai memiliki khasiat kesehatan untuk memulihkan stamina setelah seharian berpuasa.

Lemang: Beras ketan yang dimasak di dalam bambu dengan santan, memberikan aroma harum dan rasa gurih yang khas.

Boh Rom-rom: Kudapan manis kenyal yang ditaburi parutan kelapa, mirip dengan klepon namun memiliki tekstur dan aroma nangka atau pandan yang khas Aceh.

Meuseukat: Kue tradisional sejenis dodol berwarna kuning (dari nanas) yang sering hadir dalam upacara adat dan kini menjadi hantaran berbuka yang istimewa.

Dampak Ekonomi bagi Pelaku UMKM Kuliner

Ramadan menjadi momentum penting bagi para perajin kuliner tradisional di Aceh. Meningkatnya minat masyarakat terhadap menu-menu klasik ini memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Banyak pedagang dadakan hingga gerai kuliner legendaris yang menambah porsi produksi mereka berkali-kali lipat demi memenuhi permintaan pasar sore hari.

Aktivitas berburu takjil atau "ngabuburit" di pusat-pusat keramaian seperti Banda Aceh dan Lhokseumawe menjadi pemandangan harian yang menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal ini membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki posisi tawar yang kuat di tengah gempuran makanan kekinian.

Menjaga Warisan Rasa di Era Modern

Meskipun zaman terus berkembang, antusiasme masyarakat Aceh terhadap kuliner lokal menunjukkan bahwa "lidah" masyarakat tetap setia pada akar budayanya. Para pedagang pun terus berinovasi dalam penyajian tanpa menghilangkan keaslian resep yang telah diturunkan secara turun-temurun.

Kelezatan kuliner Aceh saat Ramadan adalah perpaduan sempurna antara rasa syukur, tradisi, dan kebersamaan. Menikmati sepotong lemang atau semangkuk bubur pedas saat azan Magrib berkumandang di Aceh adalah pengalaman spiritual dan kultural yang tak terlupakan.

Terkini