JAKARTA - Kemenangan besar di Camp Nou ternyata belum cukup menyelamatkan langkah Barcelona menuju partai puncak.
Di hadapan pendukung sendiri, Blaugrana tampil meyakinkan dan menundukkan Atletico Madrid dengan skor telak 3-0. Namun hasil tersebut tidak mampu menghapus luka kekalahan leg pertama yang terlalu dalam.
Pertandingan leg kedua semifinal Copa del Rey 2025/2026 yang digelar Rabu 04 Maret 2026 itu menjadi panggung kebangkitan sekaligus penyesalan. Barcelona tampil penuh determinasi sejak menit awal, seolah ingin membalikkan situasi sulit yang mereka alami pada pertemuan sebelumnya.
Sayangnya, agregat akhir berbicara lain. Kekalahan 0-4 pada leg pertama menjadi beban yang terlalu berat untuk dikejar. Meski menang 3-0 pada laga kedua, Barcelona tetap tersingkir dengan agregat 3-4 dan harus merelakan tiket final kepada Atletico Madrid.
Situasi ini menjadi pelajaran mahal bagi pasukan Hansi Flick. Dominasi di satu pertandingan tidak selalu cukup ketika konsistensi di dua leg menjadi penentu utama. Malam penuh emosi itu menyisakan kebanggaan sekaligus kekecewaan mendalam bagi publik Camp Nou.
Barcelona Bangkit Terlambat
Sejak peluit awal dibunyikan, Barcelona langsung menunjukkan intensitas tinggi. Mereka menekan lini belakang Atletico Madrid dengan tempo cepat dan pergerakan agresif dari lini kedua. Tekanan tersebut akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-29 melalui gol Marc Bernal.
Gol itu menjadi pemantik semangat tim tuan rumah. Dukungan suporter semakin membahana, memberi energi tambahan bagi para pemain untuk terus menggempur pertahanan lawan. Barcelona tampak percaya diri bahwa keajaiban masih mungkin tercipta.
Menjelang turun minum, Blaugrana kembali menemukan celah. Raphinha mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-45+5 dan mengubah kedudukan menjadi 2-0. Skor tersebut membuat harapan lolos kembali menyala, setidaknya untuk sementara waktu.
Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan dua gol tanpa balas. Barcelona terlihat lebih tajam dan disiplin dibandingkan pertemuan pertama, namun pekerjaan besar masih menanti di paruh kedua pertandingan.
Gol Ketiga yang Tak Cukup
Memasuki babak kedua, Barcelona tidak mengendurkan serangan. Mereka sadar membutuhkan tambahan gol untuk menyamakan agregat sekaligus membuka peluang memaksa laga ke perpanjangan waktu. Tekanan demi tekanan terus diarahkan ke jantung pertahanan Atletico.
Upaya tersebut kembali membuahkan hasil pada menit ke-72. Marc Bernal mencetak gol keduanya di laga ini dan membawa Barcelona unggul 3-0. Stadion bergemuruh, optimisme memuncak, dan atmosfer penuh harap menyelimuti setiap sudut tribun.
Namun hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada lagi gol tambahan yang tercipta. Barcelona gagal menemukan satu sentuhan akhir yang bisa mengubah sejarah pertandingan. Skor 3-0 memang impresif, tetapi agregat 3-4 tetap mengirim Atletico ke final.
Kenyataan pahit itu terasa begitu kontras. Dalam satu malam, Barcelona menunjukkan kualitas dan karakter, tetapi juga harus menerima konsekuensi dari hasil buruk di leg pertama.
Atletico Bertahan dengan Disiplin
Di sisi lain, Atletico Madrid tampil dengan pendekatan berbeda. Mereka tidak terlalu agresif menyerang, melainkan fokus menjaga keunggulan agregat yang sudah dikantongi sebelumnya. Disiplin dan organisasi pertahanan menjadi prioritas utama sepanjang laga.
Meski kebobolan tiga gol, secara keseluruhan mereka mampu mengontrol situasi agar tidak berkembang menjadi krisis total. Setiap peluang berbahaya Barcelona direspons dengan blok dan sapuan penting yang menjaga selisih agregat tetap aman.
Atletico memahami bahwa semifinal dimainkan dalam dua babak besar. Keunggulan 4-0 pada leg pertama memberi mereka ruang bernapas, sekaligus kepercayaan diri untuk bermain lebih pragmatis di Camp Nou.
Dengan hasil ini, Atletico Madrid melangkah ke partai final Copa del Rey musim 2025/2026. Mereka akan menghadapi pemenang laga antara Real Sociedad kontra Athletic Bilbao untuk memperebutkan trofi bergengsi tersebut.
Susunan Pemain Kedua Tim
Barcelona menurunkan formasi 4-2-3-1 dengan Joan Garcia di bawah mistar. Lini belakang diisi Jules Koundé, Pau Cubarsi, Gerard Martin, dan Joao Cancelo. Di lini tengah tampil Marc Bernal serta Pedri, sementara lini serang dihuni Lamine Yamal, Fermin Lopez, Raphinha, dan Ferran Torres sebagai ujung tombak.
Atletico Madrid menggunakan formasi 4-4-2 dengan Juan Musso sebagai penjaga gawang. Marcos Llorente, Marc Pubill, David Hancko, dan Matteo Ruggeri menjaga lini pertahanan. Di tengah ada Giuliano Simeone, Johnny Cardoso, Koke, serta Ademola Lookman, sedangkan duet Antoine Griezmann dan Julián Álvarez mengisi lini depan.
Komposisi pemain tersebut memperlihatkan keseriusan kedua pelatih dalam mempersiapkan laga penting ini. Barcelona tampil ofensif demi mengejar ketertinggalan, sementara Atletico mengandalkan keseimbangan dan disiplin bertahan.
Pada akhirnya, semifinal ini menghadirkan drama dua sisi. Barcelona menang dalam pertandingan, tetapi Atletico menang dalam keseluruhan cerita. Itulah kerasnya kompetisi dua leg, di mana satu malam buruk bisa menggagalkan upaya heroik di malam berikutnya.