IHSG Berpotensi Turun Lagi Dampak Konflik Timur Tengah Dan Tekanan Global

Senin, 30 Maret 2026 | 14:47:10 WIB
IHSG Berpotensi Turun Lagi Dampak Konflik Timur Tengah Dan Tekanan Global

JAKARTA - Bayang-bayang tekanan terhadap pasar saham Indonesia kembali mencuat seiring meningkatnya ketidakpastian global. 

Dalam beberapa waktu terakhir, sentimen eksternal menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pergerakan indeks, membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mengambil posisi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan terjun ke bawah 7000 lagi imbas dari perang di Timur Tengah yang makin panas, kabar terbaru sudah mulai menyeret Jepang dan Houthi. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas pasar keuangan global.

IHSG pada Jumat pekan lalu ditutup di posisi 7.097,05. Melemah sebesar 0,94% atau terpangkas 67,03 poin dalam satu hari perdagangan. Penurunan ini menjadi sinyal awal tekanan yang berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Pergerakan IHSG Mulai Kehilangan Momentum

Indeks sempat terpuruk hingga menyentuh level terendah harian di 7.070,21, meskipun dibuka pada level 7.136,37. Volume dan frekuensi tercatat sebanyak 18,73 miliar saham berpindah tangan dengan frekuensi 1,37 juta kali.

Dominasi zona merah terlihat jelas dengan 396 saham terkoreksi, sementara hanya 292 saham yang berhasil menguat. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang cukup kuat di hampir seluruh sektor pasar.

Penurunan ke level 7000 ini merupakan pembalikan tren (reversal) yang cukup tajam jika dibandingkan dengan performa awal tahun 2026. Investor kini mulai mempertanyakan kekuatan tren bullish sebelumnya.

Jarak Dari Rekor Tertinggi Semakin Jauh

Posisi saat ini setara dengan level IHSG pada sekitar Mei - Juni 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan signifikan yang sempat terjadi sebelumnya kini telah terkikis cukup dalam.

Asal tahu saja, IHSG itu sempat mencetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa (All-Time High) di posisi 9.174,47 pada Januari 2026. Artinya, dari titik tertingginya tahun ini, IHSG sudah terkoreksi sekitar 22,6%.

Dalam kondisi saat ini, ruang kenaikan IHSG masih sangat terbatas karena belum adanya katalis positif yang kuat dari sisi global. Pasar cenderung bergerak dalam tekanan tanpa arah yang jelas.

Faktor Global Jadi Penekan Utama

Pasar pada dasarnya menunggu clear signal seperti gencatan senjata di Timur Tengah, dibukanya kembali jalur energi utama seperti Selat Hormuz, serta penurunan harga minyak kembali ke bawah US$80 per barel.

Selama faktor-faktor tersebut belum terjadi, IHSG cenderung akan sulit untuk mengalami rebound signifikan karena tekanan eksternal masih mendominasi. Investor global masih bersikap defensif terhadap aset berisiko.

Eskalasi konflik sendiri kini memasuki fase yang lebih kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap distribusi energi dunia.

Risiko Gangguan Jalur Perdagangan Dunia

Jika sebelumnya pasar hanya fokus pada Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, kini perhatian mulai bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman mulai terlibat dalam konflik.

Jalur ini merupakan penghubung utama Asia-Eropa melalui Terusan Suez dan mencakup sekitar 6-12% arus perdagangan global. Jika kedua jalur ini terganggu secara bersamaan, maka sekitar 25-30% pasokan minyak global berpotensi terdampak.

Dalam skenario ini, harga minyak berpotensi bertahan tinggi (higher for longer). Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara maju, tetapi juga negara berkembang seperti Indonesia.

Tekanan Fiskal Dan Dampaknya Ke Pasar Domestik

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan karena harga minyak yang tinggi berada di atas fiscal comfort zone yang idealnya di bawah US$80 per barel. Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada anggaran negara.

Dengan asumsi APBN menggunakan harga minyak US$70 per barel, setiap kenaikan US$10 dapat meningkatkan defisit sekitar Rp51,8 triliun. Ini menjadi risiko serius bagi stabilitas fiskal nasional.

Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun, sementara tambahan penerimaan hanya sekitar Rp81 triliun, sehingga berpotensi menambah defisit hingga Rp155 triliun. Tekanan ini turut membebani sentimen pasar saham.

Likuiditas Global Dan Indikator Ketakutan Pasar

Di sisi lain, dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve yang sejatinya bertugas menjaga inflasi dan lapangan kerja, namun secara tidak langsung juga berperan menjaga stabilitas sistem keuangan yang sangat bergantung pada likuiditas.

Sayangnya, likuiditas saat ini rasanya makin ketat, di mana imbas harga minyak tinggi akan membuat inflasi tetap panas sehingga skenario higher for longer untuk suku bunga yang dipertahankan tinggi dalam periode lama berpeluang tinggi terjadi sampai 2027 mendatang.

Indikator lain yang memperkuat gambaran ini adalah kenaikan CBOE Volatility Index (VIX) yang saat ini menyentuh di atas level 30, berada di level tertinggi sejak awal tahun. Indeks ini sering disebut sebagai indikator ketakutan pasar.

Secara historis, level di atas 30 sering kali menjadi sinyal zona berbahaya yang diikuti oleh peningkatan volatilitas dan potensi koreksi pasar yang lebih dalam. Kondisi ini menandakan investor global sedang berada dalam mode risk-off.

Dengan kombinasi risiko geopolitik, potensi gangguan pasokan energi global, tekanan terhadap fiskal domestik, serta meningkatnya volatilitas pasar, IHSG saat ini masih berada dalam fase yang rentan. Selama belum ada katalis positif yang jelas, pergerakan indeks cenderung terbatas dan berisiko melanjutkan tekanan dalam jangka pendek.

Terkini