JAKARTA - Gejolak kembali menyelimuti pasar logam mulia global setelah harga perak mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan terbaru.
Pergerakan ini mengejutkan sebagian pelaku pasar, terutama karena terjadi tak lama setelah perak sempat menguat selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat rapuh dan mudah berbalik arah.
Pada Kamis, 5 Februari, harga perak anjlok hingga 8,5 persen dan bergerak mendekati level US$ 80 per ons troi. Koreksi ini sekaligus mengakhiri reli singkat yang sebelumnya sempat memunculkan harapan pemulihan. Tekanan jual kembali mendominasi, seiring meningkatnya volatilitas dan ketidakpastian arah pasar ke depan.
Tekanan Jual Kembali Mendominasi Perdagangan
Penurunan harga perak kali ini terjadi ketika minat jual kembali menguat di pasar global. Kenaikan harga yang sempat terjadi dalam dua hari terakhir dinilai gagal bertahan, sehingga memicu aksi ambil untung dalam skala besar. Situasi ini membuat perak dan logam mulia lainnya kembali berada dalam tren pelemahan.
Terlepas dari ekspektasi bahwa pembeli yang memanfaatkan penurunan harga akan mulai masuk pada level yang lebih rendah, tekanan jual justru tampak berlanjut. Kondisi tersebut menandakan bahwa sentimen negatif masih lebih kuat dibandingkan optimisme jangka pendek yang sempat muncul di pasar.
Bagi sebagian investor, penurunan tajam ini menjadi sinyal bahwa pasar perak masih berada dalam fase yang belum stabil. Ketidakmampuan harga untuk mempertahankan kenaikan sebelumnya memperkuat pandangan bahwa risiko volatilitas masih tinggi.
Penguatan Dolar Menekan Logam Mulia
Aksi jual di pasar perak bertepatan dengan penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Dolar AS mendapatkan dorongan dari sinyal hawkish Federal Reserve serta ekspektasi bahwa laju penurunan suku bunga AS akan berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Penguatan dolar secara historis kerap menjadi tekanan bagi harga logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar. Ketika dolar menguat, harga perak dan emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga minat beli cenderung menurun.
Dalam kondisi seperti ini, investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko. Perak, yang dikenal memiliki karakter volatil lebih tinggi dibandingkan emas, pun menjadi salah satu aset yang paling terdampak oleh perubahan sentimen tersebut.
Data Ketenagakerjaan AS Picu Spekulasi
Seperti dikutip Tradingeconomics pada Kamis, 5 Februari, pelaku pasar juga mencermati potensi perubahan arah kebijakan moneter The Fed. Perhatian tertuju pada rilis Automatic Data Processing National Employment Report yang menunjukkan pertumbuhan penggajian swasta lebih lemah dari perkiraan pada bulan lalu.
Data tersebut sempat memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Namun, harapan tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual di pasar perak, mengingat sinyal kebijakan moneter secara keseluruhan masih cenderung ketat.
Investor pun berada dalam posisi dilematis antara harapan pelonggaran kebijakan dan realitas penguatan dolar. Ketidakpastian inilah yang membuat pergerakan harga perak menjadi semakin fluktuatif dalam jangka pendek.
Nominasi Ketua Fed Jadi Sorotan Investor
Kehati-hatian pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan terbaru di lingkup kebijakan moneter Amerika Serikat. Nominasi Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve berikutnya menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar global.
Kevin Warsh diperkirakan akan mendukung kebijakan suku bunga yang lebih rendah. Ekspektasi ini sempat memberikan sentimen positif, namun belum mampu mengimbangi tekanan jual yang muncul akibat faktor eksternal lainnya.
Bagi investor perak, dinamika ini menambah lapisan ketidakpastian. Arah kebijakan The Fed ke depan akan sangat menentukan pergerakan dolar AS, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap harga logam mulia di pasar internasional.
Meredanya Ketegangan Geopolitik Beri Nafas Pasar
Di sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai mereda setelah kedua negara menjadwalkan pembicaraan baru pada hari Jumat. Meski demikian, ruang lingkup pembahasan masih belum sepenuhnya jelas.
Teheran berupaya membatasi diskusi hanya pada program nuklirnya, sementara Washington ingin memperluas agenda pembicaraan mencakup rudal balistik, dukungan terhadap militan regional, serta isu hak asasi manusia. Perbedaan pandangan ini membuat hasil perundingan masih sulit diprediksi.
Meredanya ketegangan geopolitik memang sedikit mengurangi sentimen risk-off di pasar global. Namun, bagi harga perak, faktor ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang dipicu oleh tekanan moneter dan penguatan dolar AS.
Investor Menimbang Strategi Di Tengah Volatilitas
Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, investor perak kini dihadapkan pada pilihan strategis yang tidak mudah. Sebagian melihat penurunan harga sebagai peluang untuk masuk di level lebih rendah, sementara yang lain memilih bersikap wait and see hingga arah pasar lebih jelas.
Volatilitas yang tinggi mencerminkan rapuhnya keseimbangan antara sentimen positif dan negatif. Selama tekanan dari dolar AS dan ketidakpastian kebijakan moneter masih membayangi, harga perak diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif.
Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi AS, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika geopolitik global. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah harga perak mampu menemukan titik stabil, atau justru melanjutkan tren koreksi dalam waktu dekat.