JAKARTA - Kabar gembira bagi masyarakat dan pelaku usaha, seluruh badan usaha penyedia BBM di Indonesia—mulai dari Pertamina, Shell, BP, hingga Vivo—secara resmi menurunkan harga produk BBM nonsubsidi mereka.
Penurunan ini dipicu oleh tren pelemahan harga minyak mentah dunia serta penguatan nilai tukar Rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Rincian Harga BBM Pertamina (Wilayah Jawa)
Untuk wilayah dengan besaran PBBKB 5% (seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), berikut adalah harga terbaru:
| Jenis BBM | Harga Lama (Per Liter) | Harga Baru (Per Liter) | Status |
|---|---|---|---|
| Pertamax (RON 92) | Rp12.950 | Rp12.100 | Turun |
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp14.400 | Rp13.200 | Turun |
| Dexlite | Rp14.550 | Rp13.800 | Turun |
| Pertamina Dex | Rp15.100 | Rp14.150 | Turun |
| Pertalite (Subsidi) | Rp10.000 | Rp10.000 | Tetap |
Perbandingan dengan Operator Swasta
Operator swasta juga melakukan penyesuaian harga yang sangat kompetitif untuk menarik minat konsumen:
Shell: Shell Super turun menjadi kisaran Rp12.250/liter.
BP AKR: BP 92 kini dibanderol sekitar Rp12.150/liter.
Vivo: Revvo 92 mengalami penurunan menjadi Rp12.050/liter.
Dampak Ekonomi dan Strategi Investasi
Penurunan harga energi ini memberikan sentimen positif bagi berbagai sektor di tengah kekhawatiran kenaikan harga sembako sebelumnya:
Sektor Logistik & Transportasi: Penurunan harga Dexlite dan Pertamina Dex secara langsung menurunkan biaya operasional armada angkutan. Hal ini menjadi katalis positif bagi saham seperti JSMR seiring persiapan mudik 2026.
Daya Beli Masyarakat: Berkurangnya pengeluaran untuk transportasi dapat dialokasikan masyarakat untuk kebutuhan pokok lainnya atau menambah portofolio investasi.
Inflasi: Penurunan BBM nonsubsidi diharapkan dapat meredam laju inflasi bulan Februari, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas suku bunga.
Hubungan dengan Produksi Nasional
Langkah penurunan harga ini terjadi bersamaan dengan upaya Pertamina untuk menggenjot produksi hingga 100.000 barel dari ladang tua. Jika produksi domestik meningkat dan ketergantungan impor berkurang, stabilitas harga BBM di masa depan diharapkan akan lebih terjaga meskipun terjadi gejolak geopolitik antara India, Rusia, dan AS.