Saham

IHSG Sesi 1 Naik 0,89 Persen, Saham Unggulan Diburu

IHSG Sesi 1 Naik 0,89 Persen, Saham Unggulan Diburu
IHSG Sesi 1 Naik 0,89 Persen, Saham Unggulan Diburu

JAKARTA - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Rabu siang menunjukkan geliat positif. 

Pelaku pasar kembali masuk ke sejumlah saham unggulan. Kenaikan indeks di sesi pertama mencerminkan optimisme yang mulai terbentuk.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat di akhir sesi 1, Rabu 18 Februari 2026. Indeks naik 72,82 poin atau 0,89% ke level 8.285,09. Penguatan ini menjadi sinyal pemulihan setelah sempat terkoreksi pada pekan sebelumnya.

Sepanjang sesi pertama, sebanyak 466 saham naik, 230 turun, dan 262 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 13,27 triliun dengan volume 28,43 miliar saham. Transaksi tersebut terjadi dalam 1,82 juta kali perdagangan.

Kapitalisasi pasar pun ikut terdongkrak menjadi Rp 15.013 triliun. Angka ini mencerminkan bertambahnya nilai perusahaan tercatat. Likuiditas pasar juga terlihat cukup solid pada paruh pertama perdagangan.

Saham Paling Ramai Ditransaksikan

Berdasarkan data pasar, Bumi Resources menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan. Nilai transaksinya mencapai Rp 4,11 triliun pada sesi pertama. Tingginya nilai ini menunjukkan minat investor yang besar.

Di posisi berikutnya terdapat Petrosea dengan nilai transaksi Rp 1,1 triliun. Sementara Bank Central Asia menyusul dengan nilai Rp 1,02 triliun. Ketiga saham tersebut menjadi pusat perhatian pelaku pasar.

Aktivitas transaksi yang tinggi sering kali mencerminkan sentimen tertentu. Baik itu spekulasi jangka pendek maupun akumulasi investor besar. Karena itu, pergerakan saham-saham ini patut dicermati.

Likuiditas besar juga memberikan ruang volatilitas yang lebih dinamis. Investor biasanya memanfaatkan momentum seperti ini. Terutama ketika indeks sedang bergerak positif.

Penggerak Utama IHSG

Mengutip Refinitiv, sejumlah saham yang menjadi penggerak utama berasal dari sektor perbankan, pertambangan, hingga energi. Bank Central Asia tercatat menyumbang 9,47 indeks poin. Kontribusi ini menjadi yang terbesar pada sesi pertama.

Barito Renewables Energy turut memberikan andil sebesar 7,4 indeks poin. Sementara Merdeka Gold Resources menyumbang 5,96 indeks poin. Kombinasi sektor energi dan tambang menjadi pendorong signifikan.

Selain itu, emiten bank lain juga membantu mengangkat indeks. Bank Mandiri menyumbang 5,82 indeks poin dan Bank Rakyat Indonesia 4,72 indeks poin. Kinerja sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung pasar.

Sebaliknya, Dian Swastatika Sentosa, Amman Mineral Internatinoal, dan Sinar Mas Multiartha menjadi pemberat utama IHSG sesi 1. Tekanan dari saham-saham ini menahan kenaikan agar tidak lebih tinggi.

Sentimen Musim Laporan Keuangan dan Ramadan

Saat ini perhatian pasar akan beralih pada musim rilis laporan keuangan dan aksi buyback yang berlanjut. Pekan ini juga terasa lebih pendek karena pasar hanya buka tiga hari. Selain itu, nuansa Ramadan kian dekat.

Ramadan dikenal sebagai puncak konsumsi di Indonesia. Momentum ini diharapkan dapat menggeliatkan ekonomi domestik. Dampaknya juga berpotensi terasa pada pasar saham.

Secara teknikal, posisi IHSG kini sedang menguji resistance MA100 daily di kisaran 8400. Level ini dinilai masih sulit ditembus dalam waktu dekat. Apalagi indeks sempat terkoreksi dua hari pada pekan lalu dan bergerak sideways.

Pelaku pasar perlu mengantisipasi support terkini di MA200 daily di level 7800. Jika level ini ditembus, IHSG berpotensi kembali memasuki fase downtrend. Namun jika terbentuk higher low baru, peluang menuju resistance berikutnya terbuka, setidaknya menutup gap di area 8700.

Kinerja Emiten dan Sentimen Global

Fokus investor juga tertuju pada laporan keuangan emiten. Setidaknya sudah ada 18 emiten yang merilis laporan keuangan 2025 pada akhir pekan lalu. Mayoritas berasal dari sektor perbankan.

PT Unilever Indonesia Tbk memimpin dengan pertumbuhan EPS tahunan kuartal IV/2025 lebih dari 1000%. Kenaikan ini didorong divestasi bisnis es krim pada Desember lalu. Meski demikian, aksi tersebut bersifat one-off.

Dari sektor perbankan, PT Bank Mandiri Persero Tbk mencatat laba bersih konsolidasi Rp 56,3 triliun sepanjang 2025, naik 0,93% secara tahunan. PT Bank Negara Indonesia melaporkan laba Rp 20,04 triliun, turun 6,63%. Sementara PT Bank Tabungan Negara mencetak laba Rp 3,5 triliun atau meningkat 16%.

Dari eksternal, indeks utama Asia dibuka menguat meski sebagian masih libur tahun baru China. Nikkei 225 naik 0,73% didorong lonjakan ekspor Jepang 16,8% secara tahunan. Di Amerika Serikat, S&P 500 naik 0,1%, Nasdaq 0,14%, dan Dow Jones 0,07%, sementara pasar menanti risalah The Fed dan data inflasi PCE akhir pekan ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index