JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menjadi sorotan pasar energi global.
Pada perdagangan Rabu 18 Februari 2026, mayoritas kontrak mencatat kenaikan. Kenaikan tersebut terjadi di tengah lonjakan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap di China. Dukungan kebijakan dari Amerika Serikat turut memperkuat sentimen positif komoditas ini.
Meski dunia terus mendorong transisi menuju energi bersih, batu bara masih memegang peran strategis. Permintaan jangka pendek yang tetap kuat membuat harga bergerak mendekati level tertinggi dalam setahun. Dinamika ini tercermin pada kontrak Newcastle dan Rotterdam. Pelaku pasar memantau perkembangan dari dua ekonomi besar dunia tersebut.
Dikutip dari TradingView, harga batu bara naik mendekati level tertinggi dalam setahun. Kenaikan terjadi seiring ekspektasi permintaan yang tetap kuat. Hal itu berlangsung meski dunia bergerak menuju sumber energi yang lebih bersih dalam jangka panjang. Prospek konsumsi jangka pendek dinilai masih solid.
Pergerakan Harga Batu Bara Newcastle
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,25 ke level US$ 116,8 per ton. Sedangkan Maret 2026 melejit US$ 1,1 menjadi US$ 122,15 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 1,45 menjadi US$ 122,5 per ton. Pergerakan ini menunjukkan variasi antar kontrak bulanan.
Koreksi tipis pada kontrak Februari tidak mengubah tren penguatan secara umum. Lonjakan pada kontrak Maret dan April mencerminkan optimisme pasar terhadap permintaan mendatang. Harga yang mendekati puncak tahunan menjadi indikator kuatnya sentimen beli. Investor merespons perkembangan kebijakan dan ekspansi kapasitas pembangkit.
Penguatan Kontrak Rotterdam
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 menguat US$ 1,65 menjadi US$ 107,25. Sedangkan Maret 2026 menguat US$ 2,1 menjadi US$ 110. Sedangkan pada April 2026 terkerek US$ 2,6 menjadi US$ 109,7. Kenaikan ini terjadi seiring sentimen global yang membaik.
Pasar Eropa ikut merasakan dampak ekspektasi permintaan dari Asia dan Amerika. Kenaikan harga di Rotterdam memperlihatkan respons yang relatif seragam dengan Newcastle. Meskipun pergerakan tiap kontrak berbeda, arah umum tetap menguat. Kondisi ini mempertegas pengaruh faktor eksternal terhadap harga.
Ekspansi Kapasitas PLTU China
China, produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia, menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 78 gigawatt sepanjang 2025. Angka ini menjadi penambahan tahunan terbesar dalam satu dekade terakhir. Ekspansi tersebut memperkuat posisi China dalam industri batu bara global.
Langkah ini menegaskan fokus Beijing pada keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik. Terutama saat periode permintaan puncak yang membutuhkan pasokan andal. Meskipun kapasitas pembangkit energi nonfosil untuk pertama kalinya telah melampaui kapasitas berbasis bahan bakar fosil, batu bara tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan.
China saat ini masih memiliki armada pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di dunia. Negara tersebut menyumbang sekitar 71 persen dari total kapasitas pembangkit batu bara global yang sedang dalam tahap pengembangan. Dominasi ini membuat kebijakan China sangat memengaruhi harga global.
Dukungan Pemerintah Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengambil langkah untuk mendukung sektor pembangkit listrik tenaga batu bara yang sedang tertekan. Pemerintah mengalokasikan dana federal sebesar US$ 175 juta untuk memodernisasi enam pembangkit. Kebijakan ini memberikan sinyal dukungan terhadap industri batu bara domestik.
Selain itu, Departemen Pertahanan AS diinstruksikan untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan. Kebijakan ini memperluas peluang bagi pembangkit batu bara yang membutuhkan dukungan permintaan. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Dukungan dari dua negara besar ini menjadi faktor penting dalam pergerakan harga. China dengan ekspansi kapasitasnya dan Amerika Serikat dengan stimulus kebijakan menciptakan ekspektasi permintaan yang kuat. Kombinasi keduanya mendorong harga batu bara tetap berada di jalur penguatan.
Secara keseluruhan, kenaikan harga batu bara pada 18 Februari 2026 mencerminkan dinamika energi global yang kompleks. Di satu sisi, transisi energi bersih terus digencarkan. Di sisi lain, kebutuhan terhadap batu bara masih signifikan dalam menjaga stabilitas pasokan listrik.
Selama permintaan tetap kuat dan kebijakan pendukung terus berjalan, harga berpotensi bertahan di level tinggi. Pasar akan terus memantau langkah lanjutan dari China dan Amerika Serikat. Perkembangan kebijakan dan kapasitas produksi akan menjadi penentu arah harga berikutnya.