JAKARTA - Dalam misi memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menawarkan 18 proyek hilirisasi prioritas kepada para investor dan pemimpin perusahaan besar di Amerika Serikat.
Tawaran ini disampaikan di tengah rangkaian kunjungan kerja kepresidenan, di mana hilirisasi menjadi agenda utama untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi negara industri berbasis nilai tambah. Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pada tahun 2026.
Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi hanya membuka pintu bagi perdagangan komoditas, melainkan mengundang kemitraan strategis yang melibatkan transfer teknologi dan pembangunan pusat pengolahan di dalam negeri.
Diversifikasi Sektor Hilirisasi: Dari Mineral Hingga Komoditas Hijau
Ke-18 proyek yang ditawarkan mencakup spektrum yang luas, mulai dari sektor pertambangan hingga perkebunan. Fokus utama tetap berada pada pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik melalui hilirisasi nikel, tembaga, dan bauksit. Namun, dalam pertemuan tersebut, Presiden juga menekankan potensi besar pada komoditas non-tambang seperti kelapa sawit, rumput laut, dan kehutanan yang dapat diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi.
Dengan menawarkan variasi sektor ini, pemerintah berupaya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan pangan dan energi yang luar biasa. Para investor AS diajak untuk melihat peluang di luar sektor ekstraktif, yakni industri manufaktur yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sejalan dengan tren pasar global saat ini.
Kepastian Regulasi Dan Insentif Bagi Investor Global
Menyadari bahwa persaingan menarik modal global sangat ketat, Presiden Prabowo meyakinkan para investor mengenai stabilitas politik dan kepastian hukum di Indonesia. Pemerintah berkomitmen untuk terus memangkas birokrasi yang tumpang tindih dan memberikan berbagai insentif fiskal bagi perusahaan yang bersedia membangun fasilitas pemurnian (smelter) maupun pabrik pengolahan di tanah air.
Presiden menyampaikan bahwa kerja sama ini harus bersifat saling menguntungkan (win-win solution). Di satu sisi, investor mendapatkan akses ke sumber daya alam yang melimpah dan pasar yang besar, sementara di sisi lain, Indonesia mendapatkan manfaat berupa penciptaan lapangan kerja secara masif dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat.
Hilirisasi Sebagai Kunci Menuju Indonesia Emas 2045
Visi hilirisasi yang dibawa Presiden ke Amerika Serikat bukan sekadar program jangka pendek, melainkan fondasi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dengan mengolah sumber daya sendiri, Indonesia diprediksi akan memiliki struktur ekonomi yang lebih kuat terhadap fluktuasi harga komoditas dunia. Partisipasi perusahaan-perusahaan asal AS diharapkan dapat mempercepat akselerasi industri nasional agar mampu bersaing di rantai pasok global.
Kehadiran 18 proyek ini menandai babak baru diplomasi ekonomi Indonesia yang lebih berani dan terukur. Harapannya, pertemuan di Amerika Serikat ini segera membuahkan nota kesepahaman (MoU) konkret yang dapat mulai dikerjakan pada sisa tahun 2026, sehingga dampak ekonominya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat luas melalui pertumbuhan industri di daerah-daerah penghasil.