Minyak

Harga Minyak Dunia Naik Dua Persen Tembus US115 Dipicu Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Naik Dua Persen Tembus US115 Dipicu Konflik Timur Tengah
Harga Minyak Dunia Naik Dua Persen Tembus US115 Dipicu Konflik Timur Tengah

JAKARTA - Lonjakan harga minyak dunia kembali terjadi pada awal pekan ini. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Situasi memanas setelah serangan kelompok bersenjata memperluas konflik regional. Dampaknya langsung terasa pada pasar energi global. Investor merespons dengan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ke Israel. Peristiwa ini memperluas konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Pelaku pasar memperkirakan gangguan distribusi. Akibatnya, harga minyak melonjak.

Minyak mentah Brent tercatat naik sebesar US$3,09. Persentase kenaikan mencapai 2,74 persen. Harga akhirnya berada di level US$115,66 per barel. Penguatan ini terjadi pada perdagangan Senin 30 Maret 2026. Sebelumnya Brent juga menguat signifikan.

Penguatan tajam harga minyak global

Pada akhir pekan lalu, Brent sudah naik 4,2 persen. Tren penguatan berlanjut pada awal pekan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate mengalami kenaikan. Harga WTI bertambah US$2,92 atau 2,93 persen. Levelnya mencapai US$102,56 per barel.

Penguatan ini terjadi setelah WTI melonjak 5,5 persen pada sesi sebelumnya. Kenaikan beruntun mencerminkan tekanan pasar. Kekhawatiran terhadap pasokan menjadi faktor utama. Investor mengantisipasi risiko gangguan distribusi. Harga pun terdorong naik.

Sepanjang bulan ini, Brent melonjak sekitar 59 persen. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi. Bahkan melampaui lonjakan saat Perang Teluk 1990. Lonjakan ekstrem ini jarang terjadi. Kondisi pasar menunjukkan ketidakpastian tinggi.

Kenaikan dipicu konflik yang melibatkan Iran. Situasi tersebut menutup Selat Hormuz secara efektif. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan di area ini berdampak besar. Pasar energi langsung bereaksi.

Konflik meluas ke jalur pelayaran penting

Konflik yang dimulai 28 Februari 2026 semakin meluas. Serangan awal dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Ketegangan kemudian berkembang ke berbagai wilayah. Pada 28 Maret 2026, kelompok Houthi menyerang Israel. Serangan ini memperburuk situasi.

Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran jalur pelayaran. Area sekitar Semenanjung Arab menjadi perhatian. Selain itu, kawasan Laut Merah ikut terdampak. Jalur distribusi energi menjadi rentan. Risiko pengiriman meningkat.

Analis dari JPMorgan, Natasha Kaneva, memberikan penilaian. Ia menyebut konflik tidak lagi terpusat di Teluk Persia. Ketegangan meluas ke Laut Merah dan Bab el Mandeb. Area tersebut merupakan jalur penting minyak global.

Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Jalur ini vital bagi distribusi minyak. Gangguan di wilayah tersebut berisiko besar. Pasokan global bisa terganggu. Harga minyak pun meningkat.

Dampak terhadap ekspor minyak Arab Saudi

Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan perubahan arus ekspor. Ekspor minyak Arab Saudi dialihkan dari Selat Hormuz. Pengiriman dilakukan melalui pelabuhan Yanbu. Lokasinya berada di Laut Merah.

Volume ekspor mencapai 4,658 juta barel per hari. Angka tersebut tercatat pekan lalu. Pengalihan jalur dilakukan untuk menghindari risiko. Namun jalur alternatif juga memiliki tantangan. Stabilitas kawasan masih belum terjamin.

Jika jalur Yanbu terganggu, Arab Saudi memiliki opsi lain. Pengiriman bisa dialihkan melalui pipa Suez Mediterranean. Jalur ini dikenal sebagai SUMED. Rute tersebut menuju Laut Mediterania. Strategi ini menjadi alternatif distribusi.

Namun, perubahan jalur meningkatkan biaya logistik. Risiko operasional juga bertambah. Kondisi ini ikut mendorong harga minyak. Pasar memperhitungkan ketidakpastian tersebut. Dampaknya terasa global.

Ketegangan regional semakin meningkat

Ketegangan terus meningkat sepanjang akhir pekan. Infrastruktur energi di kawasan turut terdampak. Terminal Salalah di Oman dilaporkan mengalami kerusakan. Insiden ini memperburuk situasi. Jalur distribusi semakin terancam.

Di sisi lain, upaya gencatan senjata mulai dibahas. Namun konflik belum mereda. Iran menyatakan kesiapan merespons. Pernyataan tersebut terkait kemungkinan serangan darat. Situasi menjadi semakin kompleks.

Iran juga menuduh Washington mempersiapkan operasi militer. Tuduhan tersebut muncul di tengah negosiasi. Ketegangan diplomatik meningkat. Pasar energi merespons cepat. Harga minyak tetap tinggi.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, turut memberikan pernyataan. Ia menyebut pembicaraan untuk mengakhiri konflik sedang dibahas. Salah satu opsi adalah dialog Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan berpotensi digelar di Islamabad.

Upaya diplomasi diharapkan meredakan konflik. Namun pasar masih menunggu perkembangan. Ketidakpastian tetap tinggi. Harga minyak kemungkinan masih fluktuatif. Investor terus memantau situasi

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index