Harga Minyak Dunia Terus Naik Terdorong Krisis Timur Tengah dan WTI Menguat Tajam

Selasa, 31 Maret 2026 | 14:08:10 WIB
Harga Minyak Dunia Terus Naik Terdorong Krisis Timur Tengah dan WTI Menguat Tajam

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan utama pasar global setelah mencatatkan kenaikan beruntun dalam beberapa hari terakhir. 

Kondisi ini menandakan bahwa sentimen geopolitik masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah harga energi internasional.

Kenaikan yang terjadi tidak hanya terjadi pada satu jenis minyak, melainkan juga melibatkan berbagai kontrak minyak mentah utama. Hal ini menunjukkan adanya tekanan serius pada sisi pasokan global yang belum menunjukkan tanda mereda.

Kenaikan Beruntun Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia kembali naik pada hari ini, Selasa. Hal ini menandai kenaikan yang terjadi selama empat hari berturut-turut. Kenaikan ini terjadi juga pada minyak mentah WTI.

Dipengaruhi oleh kendala pada pasokan, harga minyak dunia relatif meningkat pada Selasa. Harga minyak mentah Brent, misalnya, bersiap untuk mencatatkan rekor kenaikan bulanan terbesar. Sementara minyak mentah berjangka AS, WTI, mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak 2020.

Kondisi ini mencerminkan bagaimana faktor eksternal mampu memberikan dampak langsung terhadap pergerakan harga komoditas energi di pasar global.

Pergerakan Harga Brent dan WTI di Pasar Global

Dinukil dari New Strait Times, harga minyak mentah berjangka Brent pada bulan Mei naik sebesar USD2,26 atau dua persen pada pukul 00.02 GMT. Kenaikan itu membuat harga minyak mentah Brent berada di angka USD115,04 per barel.

Hal tersebut menandai level tertinggi Brent sejak 19 Maret pada sesi sebelumnya. Kontrak Mei berakhir pada Selasa, dan kontrak Juni yang lebih aktif berada di level USD108,96.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan untuk bulan Mei, yakni sebesar tiga persen atau USD3,10. Hal ini membuat harga WTI berada di level USD105,96 per barel, tertinggi sejak 9 Maret.

Baca juga:
Minyak Melonjak, Bahlil Sebut Pertamax-Dexlite Ikuti Harga Pasar

Faktor Geopolitik Jadi Pendorong Utama

Gejolak harga minyak dunia yang berlangsung kini masih disebabkan oleh perang antara Iran dengan AS dan Israel. Penutupan Selat Hormuz menjadi kendala utama pada distribusi minyak mentah hasil produksi negara-negara Teluk.

Tekanan pada Selat Hormuz sejauh ini telah mendorong kenaikan harga minyak berjangka Brent sebesar 59 persen selama bulan Maret. Sementara itu, WTI telah naik 58 persen bulan ini.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat berdampak langsung pada kestabilan harga energi global dalam waktu singkat.

Insiden Kapal dan Risiko Tumpahan Minyak

Meskipun telah berlangsung selama sebulan, tekanan di Selat Hormuz masih terus terjadi. Pada Selasa, Kuwait Petroleum Corp baru saja merilis laporan tentang kerusakan kapal tanker pembawa minyak mentah, Al Salmi, di Dubai.

Tangki kapal Al Salmi disebut sedang terisi penuh ketika terkena serangan yang diduga berasal dari Iran. Berdasarkan laporan kantor berita negara KUNA, para pejabat memperingatkan potensi tumpahan minyak di wilayah itu.

Al Salmi merupakan salah satu kapal tanker besar milik perusahaan Kuwait. Kapal ini memiliki kapasitas mencapai 2 juta barel. Insiden tersebut semakin memperburuk kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak.

Ancaman di Selat Bab al-Mandeb

Perkembangan perang juga tak hanya menekan Selat Hormuz. Kini, Selat Bab al-Mandeb juga berisiko mengalami tekanan serupa. Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur penting bagi distribusi minyak antara Asia dan Eropa via Terusan Suez.

Pada Sabtu, pasukan Houthi di Yaman dilaporkan berniat untuk melakukan gangguan pada Bab al-Mandeb. Houthi merupakan kelompok milisi yang terafiliasi dengan Iran dan telah ikut dalam peperangan melawan Israel.

"Jika Houthi berhasil melanjutkan blokade Selat Bab al-Mandab, kedua jalur energi paling penting di dunia akan berada di bawah tekanan secara bersamaan. Krisis 'twin cokepoint' ini adalah skenario mimpi buruk bagi rantai pasokan global," kata Tim Waterer, kepala analis pasar KCM Trade.

Respons Negara dan Pergerakan Distribusi Minyak

Semenjak Hormuz ditutup, Saudi telah mengalihkan jalur ekspor minyaknya melalui Bab al-Mandeb. Minyak Saudi yang dikirim melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah kini mencapai 4,658 juta barel per hari pada pekan lalu.

Sebelumnya, pelabuhan itu hanya melayani rerata 770.000 barel per hari. Perubahan ini menunjukkan adanya upaya penyesuaian besar dalam sistem distribusi minyak global untuk menghindari gangguan lebih lanjut.

Perubahan jalur ini menjadi strategi penting untuk menjaga kestabilan pasokan di tengah situasi yang masih belum menentu.

Ketegangan Politik dan Prospek Pasar Minyak

Pada Senin , Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa ia kini mulai mempertimbangkan untuk menyerang pabrik energi dan sumur minyak Iran jika Teheran enggan membuka Selat Hormuz. AS juga dilaporkan tengah menyiapkan prajurit angkatan darat untuk merebut pulau kecil Iran di kawasan Teluk.

Meski begitu, Gedung Putih menyebut bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran terus berlanjut dan ada kemajuan dalam prosesnya. Dalam keterangan pada Senin, Gedung Putih menyebut bahwa apa yang dikatakan Teheran di depan umum berbeda dengan apa yang mereka katakan kepada pejabat AS secara privat.

Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar minyak global. Para pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan situasi, karena setiap perubahan dapat memicu volatilitas harga yang signifikan dalam waktu dekat.

Terkini