JAKARTA - Di tengah dinamika kawasan yang terus berkembang, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para tokoh bangsa dalam satu forum tertutup di Istana Kepresidenan Jakarta.
Undangan itu ditujukan kepada Presiden dan Wakil Presiden terdahulu, ketua umum partai parlemen, serta mantan Menteri Luar Negeri.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa malam tersebut berjalan cukup panjang, sekitar empat jam, sejak pukul 19.30 hingga 23.30 WIB. Agenda utamanya membahas perkembangan konflik di Timur Tengah dan langkah yang dapat ditempuh Indonesia.
Diskusi berlangsung intens dan mencakup berbagai sudut pandang. Sejumlah poin penting pun mengemuka, mulai dari pendekatan diplomasi, komunikasi dengan negara kawasan Teluk, hingga evaluasi peran Indonesia dalam Board of Peace (BoP).
CNNIndonesia.com merangkum poin-poin penting isi pertemuan yang menjadi perhatian publik. Berikut ringkasan hasil diskusi para tokoh nasional tersebut.
Menlu tekankan pentingnya jalur diplomasi
Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi. Dalam komunikasi tersebut, ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur perundingan.
"Kemudian kita juga menekankan kembali pentingnya untuk kembali ke meja perundingan," kata Sugi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa malam.
Sugiono menyampaikan bahwa dalam percakapannya dengan Aragchi, ia kembali menegaskan sikap Indonesia yang menjunjung prinsip penghormatan terhadap kedaulatan wilayah suatu negara. Prinsip tersebut menjadi dasar konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia.
Selain itu, ia juga menyampaikan niat Presiden Prabowo untuk berperan sebagai mediator. "Saya juga menyampaikan concern dari rekan-rekan kita yang ada di negara-negara teluk terhadap serangan yang mereka dapatkan di wilayah-wilayah mereka," ujarnya.
Prabowo telepon pimpinan negara-negara teluk
Sugiono juga menyebut Presiden Prabowo telah menjalin komunikasi langsung dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan Teluk. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi di tengah situasi yang berkembang.
Negara-negara Teluk yang dimaksud merupakan negara di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan Iran, seperti Saudi Arabia, UAE, Oman, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Posisi geografis mereka dinilai strategis dalam dinamika kawasan.
"Sudah telepon. Sudah telepon dan masih menunggu waktu MbS, belum bisa ketemu waktunya," kata Sugiono. Komunikasi ini menunjukkan langkah aktif pemerintah dalam membangun dialog dengan berbagai pihak.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya diplomasi langsung kepala negara guna memastikan Indonesia memperoleh informasi serta gambaran situasi yang utuh dari para pemimpin kawasan.
Kans keberhasilan BoP menurun
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengakui peluang keberhasilan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) berpotensi menurun di tengah eskalasi konflik di kawasan tersebut. Hal ini menjadi salah satu bahasan utama dalam pertemuan.
"Tadi juga disampaikan. Diulangi lagi. Apalagi dengan perang di Iran ini, bayangan bahwa BOP dan misi yang ditujukan untuk ceasefire, gencatan senjata, kemudian bantuan kemanusiaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi bisa jadi potensinya, potensi berhasilnya berkurang," kata Hasan.
Ia menangkap kesan bahwa Presiden Prabowo juga mulai berpandangan bahwa keberhasilan BoP mencapai misi perdamaiannya menurun. Pandangan tersebut muncul setelah melihat perkembangan situasi terbaru.
Hasan pun kembali menyatakan Presiden siap mengevaluasi keanggotaan RI di BoP. "Ada kesan begitu, dan dari komunikasi beliau dengan para kepala negara lain khususnya negara-negara OKI, kesan bahwa potensi BOP berhasil telah menurun dan menurunnya berapa, kita lihat saja dengan perkembangannya," ucapnya.
Pada saat yang sama, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyebut Indonesia tetap berada di BoP. Namun ia menambahkan bahwa evaluasi tetap terbuka dilakukan jika ada perkembangan bersama beberapa negara lain.
"Sampai hari ini barangkali masih dalam posisi seperti itu, kecuali ada perkembangan bersama beberapa negara lain nanti, mengevaluasi ulang kembali arti keberadaan Indonesia di BoP bersama beberapa negara lainnya," kata Paloh.
Kepentingan nasional yang utama
Ketua Umum PKB Cak Imin menyampaikan bahwa pembahasan dalam forum tersebut menekankan pentingnya kepentingan nasional. Dalam setiap situasi global, Indonesia harus menempatkan kepentingan bangsa sebagai prioritas utama.
Ia menyebut pertemuan itu membahas secara komprehensif langkah antisipasi dalam menghadapi dinamika yang terjadi. Pendekatan yang diambil harus terukur dan mempertimbangkan berbagai aspek strategis.
"Kepentingan bangsa kita adalah yang paling utama dalam semua aspek kerjasama dengan siapapun," kata Cak Imin. Pernyataan itu menegaskan bahwa seluruh kebijakan harus berpijak pada kepentingan nasional.
Pertemuan selama empat jam tersebut memperlihatkan upaya konsolidasi di tingkat elite nasional. Di tengah situasi global yang tidak menentu, komunikasi lintas tokoh menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas dan arah kebijakan Indonesia ke depan.